Di exchange, stablecoin dipakai sebagai pengganti dolar; di DeFi, jadi dasar pinjam-meminjam; di beberapa negara, dipakai untuk melindungi tabungan dari inflasi.
Bisa atau tidaknya stablecoin menjaga harga tergantung pada aset cadangan di belakangnya dan seberapa bisa dipercaya penerbitnya.
Cara kerja cadangan
Stablecoin terbesar, USDT dari Tether dan USDC dari Circle, dijamin dengan uang tunai dan surat utang jangka pendek pemerintah AS. Setiap token yang diterbitkan seharusnya punya cadangan satu dolar. Ada juga stablecoin yang dijamin aset kripto lain secara berlebih seperti DAI, dan model algoritmik.
Saat patokan harga lepas
Pada Mei 2022, stablecoin algoritmik UST runtuh. Ia tidak punya cadangan nyata, hanya mekanisme tukar dengan token LUNA. Dalam beberapa hari, keduanya kehilangan hampir seluruh nilainya. Sejak itu, stablecoin tanpa cadangan dianggap sangat berisiko.
Stablecoin di Indonesia
USDT dan USDC diperdagangkan di pedagang aset kripto berizin di Indonesia dengan pasangan rupiah. Beberapa perusahaan lokal juga menerbitkan stablecoin berbasis rupiah. Ingat bahwa stablecoin tetap aset kripto, bukan alat pembayaran sah: di Indonesia, transaksi pembayaran wajib memakai rupiah.
Pilih jaringan yang benar
USDT yang sama ada di banyak jaringan, misalnya Ethereum (ERC-20) dan Tron (TRC-20). Itu jalur yang berbeda, dan salah kirim jaringan bisa membuat dana hilang. Selalu cek sebelum mengirim.